Sejarah Gereja Wesleyan Indonesia Masuk ke Nusa Tenggara Timur

Pendiri Gereja Wesleyan Indonesia Nusa Tenggara Timur
       Pdt. Rev. Lazarus Lot Sailana, S.Th


A. Awal Mula
 
      Gereja wesleyan Indonesia masuk ke Nusa Tenggara Timur dengan perjalanan sebagai berikut :
      Pada Tahun 1963 ada dua gereja Kemah Injil di Alor yaitu Gereja Molla di pimpin oleh guru Injil Bernabas Atafani dan gereja Murwati di pimpin oleh guru Injil Amos Maaloka. Kedua Gereja ini memisahlan diri dari Gereja Induk yaitu Gereja Kemah Injil Wetatuku yang di pimpin oleh pdt Moses Laana. Gereja Molla dan Murwati memisahkan diri dari Gereja induk karena disiasat oleh Pdt. Moses Laana karena masalah persembahan hulu hasil yang telah di pakai oleh guru Injil Bernabas Atafani tanpa sepegetahuan Moses Laana sebagai Gembala Sidang pada Gereja induk waktu itu.
      Kedua Guru Injil dalam keadaan seperti itu, Pdt. Bastian Jermias Taka dari Kupang pergi kesana dan melayani kedua Gereja itu dari tahun 1963 sampai dengan tahun 1969. Sementara itu, L.L Sailana sekeluarga kembali dari sekolah Tinggi Theologia Jeffrey di Makassar , sesudah selesai studinya. Saudara L.L Sailana sekeluarga setelah kembali dari Makassar pada bulan November 1968 langsung ditetapkan menjadi Gembala Sidang Gereja Kemah Injil di JL. Palapa Kupang dan datang pada tanggal 19 Oktober 1969 saudara L.L Sailana di tahbis menjadi Pendeta. Sesudah Melayani dua tahun yaitu dari tahun 1968 sampai dengan 1970. Pada bulan September karena ada desakan dari Pendeta B. J .Taka dan juga atas panggilan kedua Gereja di Alor yaitu Gereja Molla dan Gereja Murwati, maka Pendeta L.L Sailana sekeluarga dijemput oleh Guru Injil  B. P. Atafani dan dibawa ke Alor . Setelah tiba di Mola Alor,Pendeta L.L Sailana bekerja sama dengan Guru Injil B. P . Atafani dengan Guru Injil Amos Maaloka dan melayani kedua Gereja tersebut . Pelayanan berlangsung pada tanggal 8- 11 Februari 1971 ,kedua Gereja tersebut mengundang beberapa kawan Gereja, lalu mengadakan konprensi yang pertama, di Mola. Melalui konprensi inilah di bentuk Badan dengan nama " Majelis Kingmit Daerah Nusa Tenggara Timur, dan kantornya berkedudukan di Kupang.
       Badan yang telah di bentuk oleh konperensi itu komposisinya sebagai berikut :
1. Ketua : Pdt. L.L Sailana, S.Th
2. Wakil ketua : Pdt. B.P Atafani (setelah ditahbis)
3. Sekretaris : Bpk. S.J Taka
4. Wakil Sekretaris : Bpk. M.L Lukuaka
5. Bendahara : Bpk. C. Pina
6. Anggota : Pdt. M.Banamakani(Ditahbis) dan Pdt. I.M Letidena (Ditahbis)
           Pada tahun1974 Bapak Samuel Jermias Taka bersama isteri ibu Orpa  Taka Manuain sekeluarga pindah dari kalabahi Alor ke Bandung untuk ibu Orpa Manuain melanjutkan kuliah kebidanannya lagi. Maka setelah Bapak S.J. Taka sekeluarga di Bandung, maka beliaulah yang menjadi jalan penghubung antara pimpinan kingmit Daerah NTT dengan Gereja Wesleyan di Bandung.                Setelah pimpinan kingmit Daerah NTT mengirim surat kepada Bapak S. J. Taka untuk mencari dan menghubungi salah satu Gereja di Bandung yang se-azas dengan Gereja Kemah Injil tetapi belum ada di NTT maka Bapak S. J. Taka menghubungi Gereja Wesleyan di Bandung, karena menurut Bapak S. J.Taka Gereja Wesleyan menggunakan Buku Nyanyian Kemenangan Iman.
         Maka pada bulan Juni tahun 1976 datanglah Pendeta Daniel Pantangan dan Pendeta Roberd R. Smith dari Bandung juga Pendeta  L. L. Sailana dari Mola  Alor lalu bertemu Pendeta  B. J. Taka dengan Cornelius Pina dan Drs. Paulus Isliko di Kupang.

Dalam kesempatan itu, terjadilah pertemuan antara Majelis kingmit Daerah NTT yaitu :
1. Pdt L. L. Sailana
2. Pdt B. J. Taka
3. Bpk . C .Pina
4.Drs .P. Isliko
Pihak Gereja Wesleyan dari Bandung ialah
1. Pdt D. Pantangan
2. Pdt R. B Smith
Bahwa dalam pertemuan ini telah menyepakati hal-hal sebagai berikut:
1. Supaya adanya kerjasama antara Gereja Wesleyan dengan Kingmit  Daerah NTT dalam beberapa waktu
2. Bahwa dalam bentuk kerjasama itu apabila memungkinkan maka akan terjadi peleburan Kingmit Daerah NTT ke dalam Gereja Wesleyan
3. Bahwa pengerja-pengerja akan diperhatikan penghidupan mereka setelah Kingmit Daerah NTT melebur ke dalam Gereja Wesleyan
4. Supaya seorang Missi Wesleyan berkedudukan du Kupang NTT
          Setelah kesepakatan dan selesai pertemua maka Pdt .D Pantangan dan Pdt .R .E . Smith kembali ke Bandung dan Pdt L .L Sailana kembali ke Mola Alor . Tetapi Pdt. L. L . Sailana sebelum kembali ke Alor , dibentuk sebuah Panitia yang disebut Panitia Konperensi Kingmit Daerah NTT dan Panitia tersebut terdiri dari: 
1. Ketua                     : Drs. P Isliko
2. Wakil Ketua           :Pdt. B. P Atafani
3. Sekertaris              :M. L. Lukuaka
4. Bendahara             :C. Pina
5.Anggota-Anggota  : Majelis Gereja Mola
     Selesai pembentukan panitia tersebut maka, Pdt.L.L. Sailana kembali ke Mola,Alor. Beberapa bulan kemudian Pdt. L.L Sailana di pangil ke Bandung oleh S. J. Taka lewat telegram. Maka Pdt . L. L. Sailana berusaha berangkat ke Bandung untuk pendekatan dengan pimpinan Gereja Wesleyan di Bandung. Maka Pdt. L. L . Sailana berangkat dari Alor ke Kupang, dan dari Kupang ke Surabaya pada tanggal 3 September 1976 dengan kapal Laut. Dan berangkat dari Surabaya ke Bandung pada tanggal 11 September 1976 dengan menumpang Kereta Api. Tiba di Bandung pada tanggal 12 September 1976 dan berada di Bandung 
selama beberapa hari untuk bertemu pimpinan Gereja Wesleyan.

B. Menjejaki Kesepahaman
      Setelah Pdt. L.L Sailana bertemu dengan pimpinan Gereja wesleyan Pdt. Daniel Pantangan dan Pdt. Robert E. Smith dan menyepakati beberapa hal yaitu: 
1. Doktrin Gereja Wesleyan dengan doktrin Kemah Injil ada persamaan dan kesamaan 
2. Kesepakatan mengadakan konperensi bersama di Nusa Tenggara Timur dalam hal ini Alor.
3. Jika memungkinkan maka bisa terjadi peleburan Kingmit Daerah NTT pimpinan Pdt. L.L Sailana melebur ke dalam gereja Wesleyan.
       Setelah selesai kesepakatan, maka Pdt L. L. Sailana berangkat dari Bandung ke Jakarta pada tanggal 20 September 1976 untuk beberapa urusan antara lain, bertemu dengan Dirjen Pertahanan menyangkut tanah-tanah Gereja di Alor. Setelah itu , dan menyelesaikan beberapa urusan lagi maka Pdt. L.L sailana Berangkat dari Jakarta Ke Surabaya pada tanggal 30 september 1976. Dan berangkat kembali ke Surabaya ke Kupang pada tanggal 1 Oktober 1976 dan tiba di kupang pada tanggal 5 Oktober 1976.
        Di Kupang Pdt. L.L Sailana mengadakan rapat bersama dengan majelis harian Kingmit daerah NTT dan pada kesepakatan itu Pdt. L.L Sailana melaporkan kepada majelis harian Daerah NTT mengenai hasil perjalanan ke Bandung dan ke Jakarta. Setelah itu Pdt. L.L Sailana kembali ke Molla Alor pada tanggal 11 oktober 1976. Kemudian rapat lagi dengan pegerja-pengerja dan majelis gereja di Molla untuk mereka pun mengetahui hasil perjalanan ke bandung dan Jakarta. Sesudah itu mulai proses persiapan-persiapan menuju konprensi Kingmit Daerah NTT pada Tahun 1977.
        Datang pada tanggal 7 Juli 1977, Kingmit Daerah Nusa Tenggara Timur mengadakan Komperensi daerah di Molla Alor. Konperensi ini diselengarakan dengan thema "Kristus Jadikan Semuanya Baru" Wahyu 21:5. Sub thema : "konsulidasi dan Reformasi"  dengan semboyan "Injil adalah dasar pembagunan Bangsa"
        Konperensi ini di hadiri oleh delegasi yang datang dari :
A. Amerika serikat, missi sebayak (8 orang) termasuk sekretaris Wesleyan Sedunia, suami isteri: 
1. Pdt. DR. Layttel (sekretaris Wesleyan Sedunia)
2. Ny. Layttel
3. Pdt. DR. Robert Smith
4. Ny. Smith 
5. Pdt. Flora Balle Slater
6. Pdt. Daisy Elisabeth Buby
7. Pdt. Frida Mae Farmer
8. Pdt. Gary Lee Cutler
B. Missi dari Filipina (2 orang)
1. Pdt. Daniel Pantangan
2. Ny. Pantangan
C. Delegasi dari Bandung (2 orang)
1. Bpk. T. Ginting
2. Bpk. K. Simamora, SH
D. Peserta dari NTT (82 Orang)
Jumlah seluruh peserta yang hadir dalam komperensi 95 orang.

C. Hasil Putusan Konperensi
         Konperensi ini dibuka oleh Bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Alor Drs. Umbu Pekudjawag. Komperensi ini berlangsung dari tanggal 7-11 Juli 1977 yang inti keputusannya yaitu : Kingmit Nusa Tenggara Timur melebur diri ke dalam Gereja Wesleyan Indonesia serta Membentuk dewan pengurus umum Gereja Wesleyan Indonesia(DPU.GWI)/Sinode GWI dan dewan pengurus wilayah gereja wesleyan Indonesia Nusa Tengara Timur(NTT).
       Maka sejak tanggal 7 Juli 1977 jam 12:00 siang Wita Gereja Wesleyan Indonesia secara Resmi telah lahir Molla Alor Bumi Nusa Tenggara Timur. Kini sudah mempuyai 28 Gereja dan 3.110 anggota jemaat serta 44 pdt dan 16pdt Muda, juga 6 guru injil serta sebuah Sekolah Tinggi Theologia Abalbalat Wesleyan Kupang.(berubah setiap tahun)
        Sebagai Pendiri Gereja Wesleyan Indonesia Indonesia Nusa Tenggara Timur ialah:
1. Pdt. Rev. Lazarus Lot Sailana, S.Th
2. Pdt. Maria Sailana-Bessie, SMTh
3. Bpk. Semuel J. Taka
4. Pdt. Barnabas P. Atafani
5. Pdt. Amos Maaloka
     Misi gereja wesleyan Indonesia yang pertama datang dan menetap di Kabupaten Alor Desa Molla pada tanggal 22 September 1979 yaitu: Pdt. Rufo Mapalo Lomahan Berserta Isteri dan kedua anaknya datang dari Filipina.

     Demikianlah perkembangan sejarah singkat Gereja Wesleyan Indonesia Nusa Tenggara Timur.
       Sejarah ini akan di sempurnakan kemudian oleh pendiri Gereja Wesleyan Indonesia Nusa Tenggara Timur, Pdt. Rev L.L Sailana, S.Th. berhubung masih ada data-data penting sejarah yang belum di masukan ke dalam tulisan ini.
      











      

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sejarah Gereja Wesleyan Tembok Ratapan Oesapa

(Renungan Harian Mahasiswa STTAK)